Alasankenapa hasil foto kurang tajam. Kualitas lensa. Lensa yang mahal akan menghasilkan kualitas gambar yang sangat tajam. Mulai dari lensa, sensor kamera, sampai pada hasil cetakan foto. Jika anda hendak mendapatkan hasil masimal dari foto anda, silahkan cek lagi hal-hal di atas terhadap kemera anda. Saksikansaja video singkat yang menjelaskan mengapa kamera ini sangat mahal: 19. Cak Bass. Electrical Engineer di Perusahaan swasta (2005–saat ini) Penulis punya 254 jawaban dan 90,9 rb tayangan jawaban 10 bln. Akhir-akhir ini, frase serupa sering sekali muncul di beranda youtube. Belum sempat melihat apa yang di bahas di sana, ternyata Berikutadalah contoh kamera DSLR terbaik untuk para fotografer pemula, diantaranya : Nikon d7100 – Sensor 24,1 MP, video Full HD dan pengambilan gambar kontinu. Nikon d800 – Dengan Sensor 36,3 MP, ini adalah salah satu DSLR resolusi tertinggi. Canon Eos 7d mark ii – Sensor 20,2 MP, foto dan video berkualitas tinggi. Masingmasing jenis kamera mempunyai kelas yang berbeda sesuai kebutuhannya, namun fungsi dan pengoperasiannya tidak jauh berbeda, hanya mungkin fasilitas dan kualitas hasil rekamannya yang berbeda. f Pada dasarnya setiap kamera terdiri dari tiga bagian utama, yaitu : 1. Lensa 2. Tubuh Kamera 3. Recorder/VCR 1. Dalamfotografi, lensa berfungsi untuk memfokuskan cahaya dan mengantarkannya ke dalam badan kamera. Di bagian luar lensa biasanya terdapat tiga cincin panjang focus (untuk lensa jenis variabel), cincin diafragma dan cincin focus. Pada permukaan lensa juga di lengkapi sebuah lapisan yang dibuat dari uap logam (coating). Masalahnyamau yang mana Lensa Fix 50, 35 atau 24 mm. Ceritanya Beli kamera minim budget jadinya beli Body Only (BO) Canon EOS 760 D. Itupun Kredit. Tadinya kenapa beli di kota sendiri, kalau ada urusan garansi nggak ribet kirim alat dan balikinnya. Ok lah Body Canon EOS 760 D Beli Kredit, dan Lensanya beli cash, Ambil FIx Yongnuo aja Fix . Pemula dan penghobi fotografi mungkin kadang-kadang bertanya-tanya, mengapa lensa relatif mahal? Bahkan banyak yang lebih mahal daripada harga badan kamera DSLR / mirrorless itu sendiri. Banyak sebenarnya faktor yang membuat lensa itu mahal. Dibawah ini adalah faktor-faktor penentu harga lensa 1. Jarak fokus lensa Lensa yang sangat lebar dan sangat tele biasanya sangat mahal karena desainnya yang rumit. Lensa lebar membutuhkan banyak elemen lensa, dan juga elemen UD ultra dispersion. Contoh lensa wide yang harganya tinggi yaitu Canon 14mm f/ Lensa ini punya 14 elemen, termasuk elemen aspherical dan UD kedua elemen lensa ini ditambahkan supaya lensa tetap tajam sampai ke ujung foto. Sayangnya elemen ini sangat mahal bahannya. Lensa telefoto yang sangat jauh jangkauannya juga mahal sekali. Hal ini karena ukuran elemen lensa makin besar jika jarak fokusnya tambah panjang. Motor fokus di dalam lensa juga harus lebih kuat dan besar untuk menggerakkan elemen-elemen lensa. Selain itu, untuk mempertahankan ketajaman foto, dibutuhkan elemen UD seperti yang ada di lensa wide/lebar. Yang paling murah yaitu lensa 50mm. Lensa dengan jarak fokus ini memiliki hanya 6-8 elemen dan desainnya tidak rumit. Contoh lensa Canon 50mm f/ II Desain lensa lebar Canon 14mm f/ II yang kompleks mendorong tingginya harga. Diagram lensa Canon 50mm f/ yang sederhana 6 elemen saja. 2. Bukaan lensa Bukaan/Diafragma lensa semakin besar maka harganya akan semakin mahal karena diameter lensa menjadi lebih besar. Yang paling rumit adalah lensa zoom berbukaan besar. Lensa seperti 24-70mm f/ dan 70-200mm f/ lebih mahal daripada lensa-lensa zoom yang berbukaan menengah atau kecil. 3. Kualitas badan/casing lensa Ada lensa yang tahan debu dan cipratan air, terbuat dari bahan logam, ada juga yang dari plastik yang ringan tapi rapuh. Ada lensa yang dilengkapi dengan lens hood topi lensa, ada yang tidak. Makin tinggi kualitasnya tentunya makin mahal. 4. Motor fokus Motor fokus lensa yang kuat akan membuat autofokus lensa cepat dalam mengunci subjek foto. Biasanya motor fokus di lensa ada kelasnya. Ada yang agak murah, biasanya mengeluarkan suara dan agak pelan saat autofokus. Badan lensa juga berubah menjadi panjang saat fokusnya berubah. Yang kelasnya tinggi autofokusnya lebih cepat, dan senyap. Biasanya badan lensa tidak berubah panjang saat fokus. istilahnya internal focusing. 5. Peredam getar Image Stabilization IS, Vibration Reduction VR adalah sebuah fitur lensa untuk mencegah foto blur akibat getaran tangan kita. Fitur ini membuat harga lensa menjadi tinggi terutama lensa zoom telefoto. Lensa zoom telefoto seperti 70-200mm f/ IS/VR hampir dua kali lipat lebih mahal daripada 70-200mm f/ tanpa IS. Hal ini karena penambahan stabilizer yang berkualitas tinggi untuk mengimbangi bukaan lensa yang besar dan desain lensa telefoto zoom yang rumit. 6. Jumlah Produksi Sebagian lensa diproduksi dalam jumlah banyak karena banyak peminatnya. Lensa yang diproduksi dalam jumlah banyak biasanya lebih murah karena ongkos produksi bisa ditekan dengan dibagi ke setiap lensa. Tapi lensa yang tidak terlalu banyak dibutuhkan harganya akan lebih mahal, seperti lensa telefoto yang sangat jauh, atau lensa perspective correction. Lensa-lensa yang saya sebutkan tadi sangat jarang dibeli fotografer sehingga ongkos produksinya tinggi dan harganya semakin mahal. Kontras dengan lensa kit zoom 18-55mm atau lensa fix 50mm yang banyak diproduksi, sehingga harganya juga menjadi lebih murah. 7. Merek Merek menyimbolkan reputasi. Merek/sistem kamera juga dapat meningkatkan harga. Misalnya, merek “Leica” terkenal dengan reputasinya sebagai pembuat kamera dan lensa berkualitas tinggi, maka harganya juga dipasang lebih tinggi daripada merek lain seperti lensa Tamron atau Sigma. Ketujuh kombinasi diataslah yang membedakan harga antara lensa satu dengan yang lain. Sayangnya, semakin tinggi harganya, biasanya semakin baik mutunya. Bagi yang mencari lensa dengan nilai tinggi tapi harga murah, saya usulkan lensa 50mm. Lensa semacam ini desainnya sederhana, kualitasnya bagus dan banyak diminati oleh fotografer baik yang punya kantong tebal maupun tipis. About the author Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Instagram enchetjin QuoteKomentar dari aganQuoteOriginal Posted By balagendirâ–ºwow ada trit tandingannya, trit kemarin beneran bikin ane galau, tapi kalau dipikir-pikir, ane kan beli DSRL emang buat belajar, justru karena harus belajarnya itu loh yang bikin asik dan menantang dibanding cuma pake kamera pocket. Ane gak nyesel beli DSRL. QuoteOriginal Posted By adrifebriâ–ºas always, beli barang sesuai kebutuhan. Kalo kebutuhan sudah terpenuhi dengan kamera henpon, misalnya, ya ngapain beli digicam ? Kalo kebutuhan sudah terpenuhi dengan pocket digicam, please don't bother buying a DSLR digicam. Kalo ngerasa ribet dgn DSLR, ya itu salah satu tanda bahwa you don't need a DSLR camera. bila beli barang elektronik / mekanikal, maka sudah seharusnya baca manual booknya, biar ngerti fungsi dan fiturnya. Itu buku bukan pajangan. gue pertama kali beli digicam 1,3 mp taon 2002, lantas naik kelas ke 3 mp, lanjut ke prosumer 5 mp, dan berakhir di DSLR murmer Pentax K100DS. Yg berasa dari DSLR buat gue adalah ISO tinggi lebih bersih, AF yang lebih cepat, Time Value / Shutter priority jauh lebih lama, ada hot-shoe utk external flash, megapixel count lebih tinggi. Sebenarnya, bila dengan perkembangan teknologi yang ada, lantas prosumer-class digicam bisa menyediakan hal2 tadi, gue lebih memilih pake prosumer aja, karena lebih ringkas utk dibawa-bawa. QuoteOriginal Posted By willyhagâ–ºWkwkwk... Nice thread bro... Intinya sih satu sesuain hobby sama gear yg kita beli... Jgn hobby ente sama moge tapi belinya velg mobil 18" ,,, Sama satu lagi tambahan dari ane.. Kalo emang niat blajar fotografi mending ambil dslr entry level daripada mirrorless.. Kenapa? Dslr emang lebih berat, lebih gede dan lebih ribet dibawa.. Tapi untuk setting malah lebih mudah..QuoteOriginal Posted By mrfrunzeâ–ºAda yang ketinggalan gan, padahal fitur dasar banget, duo autofokus & metering Autofokus berguna untuk melakukan fast-focusing dengan mengandalkan focal sensor pada kamera. Fitur ini sangat berguna, dan justru amat sangat disukai oleh para fotografer profesional karena dapat menghemat waktu dalam membidik gambar. Di dalam fotografi jurnalisme, fotografi wildlife, dan fotografi yang dituntut untuk berteman dengan 'motion-blur' misalnya ngefoto pesawat lagi take off, ngefoto mobil lagi ngebut, foto foto dunia balap F1 & MotoGP, autofokus bisa dibilang sebagai fitur DSLR yang memiliki peran paling penting selama sesi pemotretan berlangsung. Sistem autofokus kamera juga punya kemampuan yang berbeda, kamera murah dengan kamera mahal tentunya memiliki kecepatan autofokus yang berbeda. Tidak hanya cepat, namun DSLR di masa sekarang dituntut untuk memiliki autofokus yang sangat akurat sehingga dapat 'memisahkan' foreground - object - background dengan baik. Bahkan pada high end pro-level DSLR, seperti Nikon D4S & Canon EOS 1DX, autofokus mereka dapat membidik target dengan sempurna hanya dalam hitungan kurang dari 0,08 detik pada mode burst kamera mengambil gambar secara terus menerus selama shutter ditekan, dan kedua kamera itu bisa mengambil lebih dari 10 gambar per detik. Bayangin, kalo shutter ditekan 5 detik terus menerus, baik D4S & 1DX dapat menghasilkan 40 s/d 50an gambar yang semuanya terfokus secara akurat kepada objek yang kita potret foto yang fokusnya miss kurang dari 10%. Coba, kalo itu dilakukan dengan fokus manual. Setau ane nggak ada koordinasi mata & tangan yang bisa ngefokusin lensa dalam hitungan 0,08 detik!!! Sementara metering mode berfungsi sebagai penentu exposure intensitas cahaya secara otomatis. Metering kamera akan terasa berbeda saat kita memotret objek yang memiliki perbedaan kontras yang sangat tinggi antara background dengan objek yang kita foto, misalnya, memotret orang dengan background matahari, lampu terang, scene surise & sunset. Secara normal, wajah orang yang kita potret akan terlihat gelap. Dengan metering lah kita melakukan kompensasi, seperti mengatur flash, atau meningkatkan aperture agar cahaya yang masuk lebih banyak, sehingga wajah objek akan lebih terang, dan seimbang dengan backgroundnya. Aslinya masih banyak lagi keunggulan DSLR dari sistem kamera lainnya, tapi sebenernya keunggulannya lebih ke sisi teknis, dan cuma di sekitar ukuran sensor micro 4/3, crop, full frame, medium format, large format, pixel density, sensor circle of confusion, image processing, tipe viewfinder mirror, electric FV, reflex pentaprism, terus ada juga perangkat autofokus rangefinder, phase detection, contrast detection dll, dsb. Tapi sepengalaman ane, fitur fitur itu sifatnya sangat teknis, cuma bisa dirasakan kalau kita udah bertahun tahun pegang DSLR dan sering memegang berbagai merk, jenis, dan varian DSLR, dan pekerjaan / hobi foto kita menuntut untuk mendapatkan gambar yang akan dicetak dengan ukuran sangat besar serta memerlukan resolusi yang sangat tajam. ** page one gan untuk info tambahan QuoteOriginal Posted By kucingresahâ–ºGw pemakai DSLR, juga pemakai Camera HandPhone. Gw cukup muak sama komentar2 "pakai DigiCam sudah cukup", bla bla bla.... Perbandingan harga aja beda jauh, gimana mau disejajarkan? Umpama beli Motor, antara Mio dan Ninja 250. Kalo perbandingan Sama2 jalan, sama2 sampe tujuan, sepeda juga jalan dan sampe tujuan. Kalo ngerasa "budget ga mencukupi", y udah terima aja, karna DSLR tetap dapet JempolQuoteOriginal Posted By omega_oneâ–ºSaya pengguna semua tipe kamera mulai dari kamera hp, pocket, mirrorless, dslr Alasan saya mengapa tetap pakai dslr 1. Faster AF 2. Sangat ergonomis dalam memilih menu. Contoh, untuk merubah white balance, titik focus, saya dapat lebih cepat jauh mengganti2 daripada mirrorless dan mata tetap di viewfinder tanpa harus melihat LCD 3. Aksesorisnya banyak 4. Jajaran lensa yang lebih komplit daripada jajaran lensa mirrorless mungkin ini hanya masalah waktu 5. Saya lebih suka viewfinder dslr karena lebih besar Sekian dulu rasanya. Nanti kalau ada kepikiran lagi, saya tambahkan QuoteOriginal Posted By mumtazfaysâ–ºane setuju gan, emang DSLR hasilnya jauh lebih memuaskan QuoteOriginal Posted By jessenyâ–º handphone lo bisa jepret kayak gini gan? QuoteOriginal Posted By fadilrwâ–º keknya udah pas. mengunggulkan dslr. emang gear yang wajib bagi Posted By buat foto dslr number one udah itu aja wong handphone diciptakan buat komunikasi,kamera buat foto kok hape ane kamerane biasa aja os e kitkat ga nyambung kan? QuoteOriginal Posted By ane Kamera itu ya DSLR ane pakai pocket, prosumer dan DSLR yang sering ane untuk foto dokumentasi acara penting pakainya DSLR, kalau pocket paling hanya untuk survey ke nasabah doang karena praktis dan hanya sekedar untuk foto, kalo prosumer lebih ke buat video karena hasil lebih bagus dari handycam, yang jelas kalo buat ane kelebihan utama yang ane rasakan adalah foto di kondisi low light/malam hari paling nyaman ya pake DSLR.... Noise parah kalo pake pocket mode full auto si ane jarang banget pakai, yang sering mode AV,TV dan manual. Tapi lensa hampir selalu autofokus on. Gak usah takut dikatain cupu pake full auto, toh pabrikan membuatnya karena sudah dipertimbangkan sebaik-baiknya. lagian kalo sudah dicetak gak bakalan ada yang tanya ini diambil pake mode auto atau manual? yg penting hasil tajam terpercaya Trus satu lagi buat agan penghobi foto Cetaklah foto-foto terbagus hasil jepretan agan-agan... percuma gan kalau hanya dinikmati di laptop/hp/pc. Puas banget gan kalau foto itu dicetak dan dimasukkan album, minimal itulah pengalaman Posted By mrfrunzeâ–º Ada Quote yang oke, "Ketika anda ingin belajar fotografi, belilah kamera yang paling mahal yang DAPAT ANDA BELI dengan budget anda" - kenapa? 1. karena semakin tinggi harga kamera yang dipakai belajar, tanggung jawab untuk menguasai ilmu fotografi juga semakin tinggi 2. karena semakin tinggi level kamera yang digunakan, berarti semakin banyak juga kontrol manual yang disediakan. ini dapat membantu kepekaan dalam mengontrol berbagai aspek dalam fotografi. Ane nge-Quote dari Arbain Rambey, seorang tokoh fotografer senior nasional, fotografer yang merangkap sebagai jurnalis senior harian Kompas, sering ditunjuk menjadi anggota & ketua juri di berbagai lomba fotografi di tingkat nasional & internasional, dan bisa dibilang juga sebagai salah satu 'suhu' fotografi Posted By felixidrâ–ºlanjutkan gan. paham SC = umur kamera itu salah. contohnya kantor ane punya DSLR untuk dipinjemin, ada kamera baru umur 10 bulan uda rusak SC nya padahal baru beberapa kali pake mungkin SC belom 1000. tp ada jg yg uda tahunan, sc hampir 200k, tp masi sehat dan bisa dipake. semua itu balik ke pribadi yg merawatnya barang tsb. emang kamera hp skrg bagus2, tp soal taste sama feel ane pegang jauh mantep motret pake DSLR dibanding kamera HP. ni kamera HP bisa begini tp kamera HP bisa begini ga ? QuoteOriginal Posted By pengguna setia camdig gan and hasil foto dari camdig settingan ane juga HAMPIR sama kok sama hasil hasil dari kamera DSLR, gak percaya? nih gan ane kasih satu hasil jepretan ane Spoiler for Cekidots ane pake camdig Canon Powershot A2300. back to topic. kamera DSLR emang media yang mumpuni buat yang HOBI sama fotografi, ane GAK TERLALU HOBI juga sama fotografi, cuma suka jepret sana sini apa yang bagus dimata ane aja, tapi, bukannya sombong atau apa, ane gak butuh DSLR kenapa? - ane bukan fotografer - ane anggap berfoto ria motret sana sini tuh ibarat bermain, semisal ane beli DSLR dari gaji ane kerja cuma buat main main, enggak deh gan - ane lebih pentingin kebutuhan pokok ketimbang yang lain, semisal ane seorang fotografer yang punya job motret dimana mana, tentu kamera DSLR itu kebutuhan pokok ane, tapi ya, ane cuma karyawan biasa, tentu kamera DSLR bukan kebutuhan pokok ane - bukannya ane enggak mau belajar tentang DSLR, ane punya banyak kawan fotografer, fotografer yang punya job motret banyak, fotografer yang tergabung dikomunitas sana sini, and fotografer yang baru mulai berkarya didunia fotografi, kita lumayan sering ngopi bareng, nongkrong bareng, sharing tentang hal hal fotografi, and omongin tentang segala tekhik fotografi, tapi buat ane, pelajaran bukan cuma tentang fotografi doang kan, ada jauh lebih banyak pelajaran yang bisa buat kita jadi orang yang pintar, pandai, cerdas, and berguna didunia ini ane sama sekali gak ada niat buat racunin agan agan kaskuser yang lain, sumfeh kesimpulan dari ane, pertimbangin and pikir matang matang buat agan agan yang pengen jauh menyelami tentang dunia fotografi, agan punya hobi fotografi? agan punya tingkat kreativitas yang tinggi? agan punya rasa ingin tau yang kuat? agan punya jiwa seni? agan punya budget yang cukup? silahkan agan pakai KAMERA DSLR pejwan jika berkenan QuoteOriginal Posted By beavismanaceâ–ºwkwkwk, ts nya melakukan pembelaan atas trit sebelumnya nih... kalau alasan ente adalah "HOBI" yaudah gan, gak akan ada sanggahan lagi, apalagi kalau memang bermanfaat DSLR digunakan sebagi profesi untuk menghasilkan uang saya acungin jempol gan.. thumbsup yg salah itu klo anak ngrengek2 ke ortu minta dibeliin DSLR cuma buat gengsi, yg ujung2nya karena bosan, kamera tersebut tidak terawat foging lensa, jamur, dll.. so selama hobi, tidak merugikan orang lain, dan klo blm bekerja tidak menyusahkan ortu, saya rasa sah-sah aja gan, wong temen ane beli Gundam jutaan juga gak ada yg marah btw tambahin kamera yg lengkap gan, kan ada tuh professional pocket kamera seperti leica x1, fujifilm x100 atau EVIL Electronic Viewfinder Interchangeable Lens Camera, jd kamera pocket bukan SLR yg lensanya bisa diganti.. berkenan pageone ganQuoteOriginal Posted By mrfrunzeâ–ºbagi kebanyakan orang, yang nggak disukai dari thread sebelah itu bukan bahasan alaynya, tapi lebih ke membelokkan opini publik. tuh buktinya banyak yang akhirnya nggak membahas alayers, tapi malah menginferiorkan penggunaan autofokus, auto exposure, auto picture control yang ada di dslr. padahal jelas jelas fitur itu dicintai oleh fotografer profesional. kita lewat thread ini berusaha mengembalikan mindset orang orang ke jalan yang Posted By durrorâ–ºthis is the reason why we go for DSLR , bahkan yg kau sebut2 alay, or someone with overpriced camera Mengapa Ukuran Sensor Kamera Digital Itu Penting Kategori KAMERA DIGITAL Tanggal publikasi 10-07-2013 112441, Oleh Erwin Mulyadi Salah satu aspek yang dilihat saat menilai kualitas kamera digital adalah sensornya. Kita tahu sensor pada kamera digital adalah tempat gambar dibentuk dan dirubah menjadi sinyal data. Tidak semua kamera digital punya ukuran sensor yang sama. Sesuai bentuknya, kamera digital yang kecil umumnya pakai sensor yang juga kecil, sedangkan kamera mirrorless dan DSLR memakai sensor yang lebih besar. Sensor dengan luas penampang sama dengan ukuran film 35mm disebut sensor full frame, yang kameranya dijual di harga 15 juta keatas. image sensor Mengapa penting untuk mengenal ukuran sensor di kamera digital? Karena ukuran sensor berkaitan dengan kemampuan menangkap cahaya dan menentukan bagus tidaknya hasil foto yang diambil. Sekeping sensor pada dasarnya merupakan sekumpulan piksel yang peka cahaya, saat ini umumnya sekeping sensor punya 10 juta piksel bahkan lebih. Makin banyak piksel, makin detil foto yang bisa direkam. Tapi saat bicara kualitas hasil foto, kita perlu mencari lebih jauh info ukuran sensornya, bukan sekedar berapa juta pikselnya saja. Megapiksel, atau resolusi sensor, saat ini seperti jadi cara efektif untuk marketing. Maka itu ponsel berkamera pun dibuat punya sensor yang megapikselnya tinggi. Pun demikian dengan kamera saku sampai kamera canggih, semua berlomba menjual 'megapiksel' ini. Bayangkan sensor kecil yang dijejali piksel begitu banyak, seperti apa rapat dan sempitnya piksel-piksel itu berhimpit? Dibawah ini adalah contoh ilustrasi ukuran sensor, dua di sebelah kiri yang berwarna merah adalah mewakili sensor kecil, umumnya ditemui di kamera saku. Sensor kecil memang murah dalam hal biaya produksi, dan bisa membuat bentuk kamera jadi sangat kecil. sensor size Di sisi lain, ukuran sensor yang lebih besar memang lebih mahal dan kamera/lensanya jadi lebih besar. Tapi keuntungannya dengan luas penampang yang lebih besar, tiap piksel punya ukuran yang lebih besar dan mampu menangkap cahaya dengan lebih baik. Maka itu saat kondisi kurang cahaya, dimana kamera tentu akan menaikkan ISO kepekaan sensor, yang terjadi adalah hasil foto dari kamera dengan sensor besar punya hasil foto yang lebih baik. Sedangkan di ISO tinggi, kamera sensor kecil akan dipenuhi bercak noise yang mengganggu. Noise ini oleh kamera modern dicoba untuk dikurangi secara otomatis lewat prosesor kamera namun yang terjadi hasil fotonya jadi tidak natural seperti lukisan cat air. Foto berikut ini diambil pakai kamera saku dengan ISO 1600, sepintas tampak baik hasilnya Namun kalau dilihat dengan detil maka hasil crop foto ini menunjukkan efek pengurang noise yang membuat detil jadi kabur, dan noisenya masih terlihat juga Jadi, hukum fisika tidak bisa dilawan. Kalau mau hasil foto yang lebih baik, cari kamera yang sensornya lebih besar. Kalau suka yang serba miniatur sensor kecil, lensa kecil, kamera kecil ya kompromi saja dengan hasil fotonya. Tips Di pasaran banyak juga kamera yang ukurannya besar, tapi bukan DSLR. Kamera semacam itu umumnya masih pakai sensor kecil sehingga hasil fotonya tidak sama dengan DSLR. Kalau mau lebih pasti, cari tahu dulu berapa ukuran sensor kamera dari agan tetangga sebelahQuoteOriginal Posted By HomoMahoâ–º habis googling tentang shutter count, ternyata banyak pengalaman shutter countnya udah full tapi masih bisa di pake. di pakenya jauh banget lagi dari jarak shutter countnya. intinya shutter count itu cuma perkiraan. TSnya sok tau QuoteOriginal Posted By semua tergantung kebutuhan gan, coba aja klo mau bikin poster segede gedung terus fotonya pakai kamera HP, apa bisa????

kenapa lensa kamera mahal